Pemain Penting Chelsea Musim Ini Tetap John Terry

terry98

Mantan pemain Chelsea yang kini menjadi pengamat sepak bola di televisi, Ruud Gullit, mengatakan bahwa John Terry tetap menjadi pemain kunci bagi perjalanan The Blues di musim ini.

Terry yang memegang ban kapten Chelsea akan berusia 35 tahun pada Desember nanti, namun ia belum tergantikan di jantung pertahanan tim yang ditangani Jose Mourinho tersebut. John Terry bahkan

Pada musim lalu, Terry bermain pada seluruh pertandingan The Blues di Liga Inggris dan bahkan menjadi salah satu pemain terbaik musim lalu bersama dengan Eden Hazard.

“Terry adalah jantung tim ini dan siapa pun yang bermain di sampingnya selalu bermain dengan baik. Mereka belajar banyak darinya dan dari pengalamannya, dan hal itu yang menjadikan Chelsea sangat solid,” kata Gullit dalam kolomnya di BBC.

“Eden Hazard memang pemain terbaik Liga Primer Inggris musim lalu tapi Terry tetap jadi yang terpenting, karena pondasi yang bagus adalah hal paling krusial untuk setiap tim. Musim ini juga sama saja.”

Gullit kemudian memuji Hazard yang dikatakannya memiliki rasa lapar untuk terus berkembang — sama seperti ketika ia masih bermain dahulu. Mantan pemain tim nasional Belanda itu kemudian memperingatkan bahwa Hazard akan mendapatkan tantangan yang lebih sukar lagi pada musim ini.

“Para pemain lawan akan menjadikannya sebagai pemain yang harus dihentikan. Ia mempunyai kecepatan dan kelincahan dan ia juga sangat berbahaya ketika berada didalam kotak penalti walaupun posisinya naturalnya adalah winger. Fakta terbaiknya adalah Ia baru berusia 24 tahun, tapi ia harus terus mengeluarkan sesuatu yang baru untuk terus berada di depan lawan. Dengan begitu ia akan menjadi prioritas Chelsea dan Mourinho.

Gullit juga menyatakan bahwa ia menantikan saatnya melihat kembali keajaiban yang diciptakan Hazard musim lalu.

“Dengan kejeniusannya, Hazard sering mengeluarkan Chelsea dari masalah pada musim lalu, jadi saya menantikan saatnya melihat keajaiban yang ia ciptakan pada beberapa bulan ke depan.”

“Tapi, saya juga berpikir bahwa Mourinho akan senang jika para pemain lain lebih berkontribusi. Bukan hanya Hazard seorang. Sebuah tim akan meraih kemenangan jika bermain sebagai tim, bukan mengandalkan kemampuan individual seseorang.”

Debut Rafael Benitez Bersama Madrid Berakhir Dengan Kekalahan

benitezteriakgetty460

Pekerjaan sebagai pelatih dilakukan Benitez pertama kali mendampingi El Real bermain melawan AS Roma menjadi catatan yang kurang bagus. Cristiano Ronaldo dan kawan kawan harus rela menelan kekalahan lewat drama adu penalti melawan AS Roma dibawah tangan Benitez.

Pada pertandingan persahabatan melawan tim Italia AS Roma , Real Madrid dipaksa menyerah dengan skor 7 – 6 lewat adu penalti dimana di 2 babak pertama kedua tim hanya mampu bermain imbang tanpa gol.

Dengan kedua tim bermain imbang tanpa gol di depan 80.746 penonton di Melbourne Cricket Ground, pertandingan International Champions Cup harus ditentukan melalui adu penalti dan Seydou Keita mencetak gol kemenangan setelah Lucas Vazquez gagal memasukkan bola.

Roma memiliki peluang-peluang yang lebih baik pada babak pertama dan mereka gagal mengemas gol pembukaan pada menit ketiga, ketika tembakan kaki kanan Daniele De Rossi dari tengah kotak penalti membentur mistar gawang.

Gareth Bale melepaskan tembakan yang melambung di atas mistar gawang tiga menit kemudian sebelum Sergio Ramos, yang mengenakan ban kapten setelah kiper Iker Casillas memutuskan hengkang, juga melepaskan tembakan yang melambung dari tendangan sudut pada menit ketiga.

Pengganti Casillas sebagai penjaga gawang, Keylor Navas, dipaksa melakukan penyelamatan bagus pada menit ke-30, melompat ke sisi kanan untuk menahan sepakan voli Salih Ucan setelah pemain Turki itu menyambut tendangan sudut dari Totti ke tiang jauh.

Ketika pencarian mereka terhadap gol di babak pertama sedikit menurun, Bale mencoba melepaskan tendangan salto di dalam kotak penalti setelah Ramos mengumpankan bola, namun pemain Wales itu justru melanggar bek Ashley Cole.

Bale kembali melompat untuk menanduk bola delapan menit setelah turun minum, namun usahanya hanya melewati sisi kanan tiang gawang dari tendangan sudut Ramos, dan ia ditarik keluar lapangan beberapa saat kemudian.

Karim Benzema, yang menggantikan Cristiano Ronaldo saat turun minum, kemudian menyia-nyiakan peluang dari tengah kotak penalti pada menit ke-60, ketika tembakan kaki kirinya melambung dan melebar setelah mendapat umpan silang dari pemain sayap Denis Cheryshev.

Pertandingan itu berakhir dengan banyak tembakan, di mana pengganti Bale, Lucas Vasquez, bergerak melewati seorang pemain bertahan sebelum upayanya digagalkan kiper Bogdan Lobont.

Susunan Pemain

Madrid: Navas; Varane (Nacho 47′), Sergio Ramos (Isco 50′), Marcelo (Arbeloa 45′), Carvajal (69′), Modric (Silva 47′), Illarramendi, Odegaard (Benzema 46′), Ronaldo (Kroos 46′), Bale (Vazquez), Jese (Cheryshev 46′)

Roma: De Sanctis; Maicon (Torosidis 53′), Yanga-Mbiwa (Capradossi 62′), Castan, Cole (Manolas 51′); Ucan, De Rossi (Florenzi 56′), Nainggolan (Keita 55′); Iago Falgue (Ljajic), Totti (Doumbia 32′, Destro 64′), Gervinho (Iturbe 48′)

Tampil Dominan,Liverpool Berikan Hasil Positif Di Awal Musim

liverpool

The Reds mengawali awal musim dengan menjalani tur pertandingan.Tur pertama The Reds memberikan hasil gemilang dimana anak asuhan Brendan Rodgers membantai Thailand All-Star dengan skor 4 – 0.Kapten ‘Si Merah’ Jordan Henderson menilai timnya sudah tampil baik meski fokus saat ini lebih ke aspek fisik.

Liverpool menang 4-0 dalam pertandingan di Rajamangala Stadium, Selasa (15/7/2015) malam WIB tadi. Empat gol itu dicetak masing-masing oleh Lazar Markovic, Mamadou Sakho, Adam Lallana, dan Divock Origi.

Hasil positif itu jadi fondasi bagus Liverpool dalam menjalani tur pramusim dan utamanya menatap musim baru. Henderson berharap timnya bisa melanjutkan start baik ini.

“Penting bahwa di pertandingan pertama kami memastikan diri memulai dengan baik. Dalam hal fisik dan taktik juga, serta teknik, semuanya berjalan sekaligus,” katanya dikutip situs resmi Liverpool.

“Dan saya merasa sepertinya kami melakukan itu hari ini. Kami punya rencana sejak awal dan itu bekerja, jadi kami hanya perlu terus melaju dari sana.”

“Mungkin hal terpentingnya adalah fisik, mencoba untuk mendapatkan bentuk terbaik sebisa kami. Dan itu adalah performa yang bagus, sebuah hasil bagus pada akhirnya, tapi kami cuma perlu terus berusaha,” tandas gelandang internasional Inggris ini.

Dalam laga tersebut, Brendan Rodgers menurunkan sederet rekrutan barunya di bursa transfer musim panas ini. Danny Ings, Nathaniel Clyne, James Milner diberi kesempatan menampilkan kebolehannya.

“James Milner tampil luar biasa, ia menunjukkan kualitas dan intensitasnya. Nathaniel Clyne sama sekali tidak jelek.

“Saya melihat Joe Gomez bermain di babak pertama dan ia bermain sangat bagus sekali. Sedangkan Adam Bogdan tampil kokoh. Semua pemain bisa bekerja sama dengan baik.” ungkap Rodgers dikutip Sky Sports dalam menanggapi kemenangan timnya.

Liverpool selanjutnya akan terbang ke Australia untuk menghadapi Brisbane Roar dan Adelaide United, sebelum beranjak ke Malaysia untuk menghadapi Malaysia XI. Dari Asia Tenggara, tim besutan Brendan Rodgers itu kemudian akan kembali ke Eropa dan melawan HJK Helsinki dan Swindon Town.

Kegagalan Messi Membela Partai Argentina

meessi

Kegagalan Partai Argentina menjadi juara pada Liga Copa America 2015 menuai banyak kritik dan berita dari publik.

Bagaimana tidak Partai Argentina memiliki para pemain bintang yang terkenal dan sudah tidak di ragukan lagi skilnya tapi tetap saja di kalahkan oleh Partai Chile yang di sebut La Roja pada drama adu penalti yang berkesudahan 4-1.

Salah satu aktor penyerang profesional yang bernama messi menjadi titik utama yang di kritik oleh publik.
Messi sering disebut-sebut sebagai pesepakbola terbaik dalam sejarah sepakbola. Tapi tidak sedikit yang kurang setuju lantaran catatan buruknya bersama Argentina.

Berikut kegagalan-kegagalan Messi di turnamen-turnamen internasional bersama Partai Argentina :

1. Piala Dunia 2006 : kiprah Messi tidak berakhir manis karena dia tidak dimainkan di babak perempatfinal saat Argentina dibekap tuan rumah Jerman lewat adu penalti.

2. Copa America 2007 : performa impresif Messi tidak sanggup mencegah kekalahan Argentina 0-3 dari Brasil di babak final. Namun demikian, Messi mendapat “hadiah hiburan” berupa gelar pemain muda terbaik.

3. Piala Dunia 2010 : setibanya di perempatfinal Messi dan Argentina tidak bisa berkutik. Jerman sekali lagi mengalahkan mereka dengan skor telak 0-4.

4. Copa America 2011 : pada perempatfinal, Argentina tidak mampu berbuat banyak saat dihadapkan dengan Uruguay. Messi memang menciptakan sebuah assist untuk gol penyama yang dibuat Gonzalo Higuain tapi Argentina mesti gigit jari karena kalah lewat adu penalti 4-5.

5. Piala Dunia 2014 : performa Messi meredup di partai-partai Argentina selanjutnya. Meskipun begitu, Argentina sukses mengalahkan Belanda untuk maju ke final sebelum ditekuk Jerman 1-0 lewat gol di babak perpanjangan waktu. Kontroversi turut mengikuti Messi setelah terpilih sebagai pemain terbaik Piala Dunia 2014.

6. Copa America 2015 : Messi mendapat pengawalan ketat dari para pemain Chile dan walaupun berhasil mengonversi tendangan penalti dalam adu tos-tosan, tidak ada rekannya yang bisa membobol gawang Chile lagi. Argentina pun kalah 1-4.

Selang tiga hari usai kegagalan di final pada liga Copa America 2015 tersebut, Messi secara terbuka melayangkan permintaan maaf kepada publik Argentina. Lewat akun facebook-nya itu juga, Messi mengutarakan kekecewaan mendalamnya.

“Tak ada yang lebih menyakitkan dalam sepakbola daripada kalah di final,” tulis Messi seperti dikutip Sky Sports.

“Tapi aku tidak ingin lama-lama menunda lagi untuk mengucapkan terima kasih, kepada semua orang yang selalu mendukung kami dan terus melakukannya di saat-saat sulit,” sambungnya.

Bagi Messi, kegagalan di final Copa America 2015 ini adalah kegagalan ketiganya di final setelah Copa America 2007 dan Piala Dunia 2014.
Kini, Messi harus menunggu kesempatannya lagi untuk mengukir prestasi dengan Argentina. Tapi dia tak harus menunggu lama karena peluang itu akan tiba pada tahun 2016 dalam edisi spesial peringatan 100 tahun Copa America di Amerika Serikat.

Argentina Masih Tidak Tajam

argentinastriker

Pagelaran Copa America 2015 sudah hampir memasuki babak semifinal, tapi Argentina masih kurang tajam selama kompetisi berlangsung.

Punya skuat mewah dengan dihuni penyerang kualitas Eropa tak selalu menjamin gol datang dengan mudah untuk Argentina. Tim Tango sepertinya kehilangan naluri mencetak gol lewat striker-striker miliknya seperti Messi, Lavezzi , Tevez, hanya Aguero yang jreng kali ini.

Datang ke Chile dengan status favorit juara, Argentina tergabung di Grup B bersama Paraguay, Uruguay, dan Jamaika. Melihat kualitas lawan-lawannya tersebut bukan tugas sulit tentunya untuk Albiceleste meraup kemenangan, kalau perlu dengan skor besar karena materi pemain Argentina unggul jauh dari negara-negara penghuni Grup B.

Argentina punya modal bagus dengan keberadaan Lionel Messi, Sergio Aguero, Carlos Tevez, Gonzalo Higuain, dan Ezequiel Lavezzi sebagai personil lini depan. Itu belum ditopang gelandang-gelandang top macam Angel Di Maria, Ever Banega, dan Javier Pastore yang kualitasnya tidak perlu diragukan lagi.

Namun, setelah turnamen berjalan boleh dikatakan penampilan Argentina masih di bawah standar. Tak cuma itu, Argentina pun seperti sulit bikin gol meski punya Messi di sektor penyerangan.

Lihat saja setelah mencetak dua gol melawan Paraguay, Argentina hanya bikin dua gol dari tiga laga terakhirnya. Melawan tim terlemah di grup, Jamaika, Argentina hanya menang tipis 1-0. Sementara itu langkah menuju ke semifinal juga harus melewati adu penalti lawan Kolombia karena hanya bermain imbang tanpa gol selama 2×45 menit.

Padahal jika dilihat dari statistik Whoscored, Messi ada di daftar teratas pemain dengan jumlah shot terbanyak, yakni 5,5 tembakan per laga dari empat pertandingan. Tapi hanya satu gol yang dibuat oleh pemain yang membawa Barcelona meraih treble winners musim lalu itu.

Sementara itu striker argentina yang lain , Higuain baru bikin satu gol, Carlos Tevez yang cemerlang bersama Juventus malah masih nirgol dan begitu pun Lavezzi. Yang boleh mendapat ponten agak bagus mungkin Aguero yang sudah bikin dua gol. Total hanya empat gol yang dibuat lima strikernya tersebut.

Mandulnya Messi dan rekannya di lini depan Argetina tentu tak boleh berlanjut ke babak selanjutnya, mengingat lawan berat sudah menunggu di babak semifinal antara Brasil atau Paraguay.

Chile 1-0 Uruguay

referee-showing-red-card-to-cavani

Pertandingan pada liga Copa America 2015 Chile sebagai tuan rumah melawan Uruguay berakhir dengan skor 1 – 0.
Chile mampu menghapus mitos bahwa tuan rumah Copa America selalu kesulitan melaju hingga ke babak semifinal. Sebab, dalam lima edisi terakhir, hanya Kolombia yang jadi pengecualian ketika mereka bahkan jadi juara di tahun 2001.

Chile berhasil menembus babak empat besar setelah mengalahkan juara bertahan Uruguay dengan skor tipis 1-0 di Estadio Nacional, Santiago, Kamis (25/6) pagi WIB. Gol kemenangan tuan rumah dicetak Mauricio Isla di menit 81.
Langkah Chile dipermudah dengan kartu merah yang diterima penyerang Uruguay, Edinson Cavani, di menit 63.

Cara bertahan Uruguay berhasil membuat serangan Chile amat sering gagal melahirkan peluang. Dari 15 kali percobaan tembakan Chile ke gawang lawan, cuma tujuh yang berhasil on target. Bahkan sebelum Uruguay bermain dengan 10 pemain, cuma tiga kali tendangan tepat sasaran dari 11 kali percobaan.

Uruguay hanya bisa mencoba memanfaatkan serangan balik, namun pertandingan berjalan cukup sengit karena Chile pun sangat sulit membongkar pertahanan Uruguay. Situasi di babak pertama malah lebih sulit bagi Chile karena lawan berkali-kali bisa memanfaatkan celah di pertahanan Chile.

Tapi perubahan terjadi ketika Uruguay terpaksa bermain dengan 10 orang akibat diusirnya Cavani sehingga Uruguay bermain lebih bertahan lagi. Kehilangan penyerang berpostur tinggi itu juga membuat Uruguay jarang melancarkan serangan balik. Keluarnya Cavani membuat opsi direct-ball ke depan menjadi praktis hilang. Uruguay kebingungan sendiri saat berhasil merebut bola karena tidak ada pemain yang bisa diandalkan untuk menerima bola jauh di depan. Akibatnya, Godin dkk. lebih mudah terpancing mengikuti alur permainan Chile.

Kekalahan tipis ini membuat Uruguay gagal mempertahankan predikat juara bertahan Copa America. Sementara itu Chile berhak melaju ke partai semifinal menunggu lawan antara Bolivia atau Peru yang akan bertanding besok, Jumat (26/6)..

Tersingkirnya Uruguay dari Copa America 2015 dibarengi dengan segudang kritik. Striker Uruguay Luis Suarez melontarkan pembelaan untuk rekan-rekan setimnya.

Lewat akun Twitternya @LuisSuarez9, penyerang Barcelona tersebut membalas balik kritik yang ditujukan untuk negaranya.

“Halo semuanya. Pertama-tama terima kasih kepada rekan-rekan setimku yang sudah memberikan segalanya di Copa, mengerahkan segenap kemampuan untuk seragam yang indah ini,” kicau dia yang dilansir AS.

“Aku tidak bisa berkata-kata. Terima kasih dan kebanggaan Uruguay!!!

“Untuk kalian yang bilang Uruguay bermain kotor, memukul, berdebat, dll, ingatkan bahwa Uruguay sudah memiliki 15 trofi Copa America. Jadi kepada kalian yang mengeluh, liatlah negara kalian sendiri, tanpa titel juara … Ayo Uruguay, Ayo!”

Bangkrut, Parma Jatuh ke Serie D

buffon2

Salah satu tim Italia yang mempunyai sejarah panjang, Parma FC resmi dinyatakan bangkrut dan tidak bisa berkompetisi di serie B 2015/2016 setelah terdegradasi dari Serie A. Parma harus memulai lagi dari liga amatir.

Dilansir Football Italia, lelang pembelian Parma sudah lewat deadline 22 Juni 2015 pukul 14:00 waktu setempat namun tak ada satu pun yang berminat mengakuisisinya. Parma yang baru nanti pun harus memulai kiprahnya dari Serie D, kasta tertinggi liga amatir di Italia.

“Administrator Parma FC, Dr Angelo Anedda dan Dr Alberto Guion, menyampaikan bahwa per 14:00 hari ini, 22 Juni 2015, tak ada tawaran yang masuk untuk kepemilikan klub.” , dengan begitu nasib parma sudah jelas akan dinyatakan bangkrut. casino sbobet .

“Dalam beberapa jam ke depan, kami akan menemui hakim Dr Pietro Rogato untuk menyelesaikan semua proses yang diperlukan.”

Parma, yang pernah meraih tiga gelar Coppa Italia, satu gelar Supercoppa Italiana, dua gelar UEFA Cup, satu gelar European Cup Winners’ Cup, satu gelar Piala Super Eropa dan sekali menjadi runner-up Serie A, kini terpaksa memulai lagi dari bawah. Ketiadaan investor baik lokal dan asing membuat Parma kesulitan dalam finansial. Jika tidak ada investor yang mau mengambilalih saham kepemilikan Parma, bakal bisa dipastikan nasib klub pada musim 2015/2016 bukan dimulai dari Serie B.

Kapten Juventus saat ini dan mantan kiper nomor 1 Parma, Gianluigi Buffon turut berduka atas kejadian yang menimpa Parma. Buffon mengawali karier profesional dan mulai mengibarkan namanya bersama Parma pada 1995 sebelum direkrut Juventus senilai €51 juta tahun 2001 silam. Lewat media sosial Facebook, Buffon menyampaikan tribute-nya buat Parma.

“Sejarah 100 tahun Parma baru saja berakhir. Saya ingin menunjukkan rasa cinta saya kepada Gialloblu sekali lagi. Saya juga merasakan kesedihan yang sama dengan kota dan para tifosi Parma. Semoga mereka tabah. Saya juga berharap bisa melihat Ducali di Serie A lagi secepat mungkin,” tulis Buffon seperti dikutip Football Italia.

Buffon yang bermain enam musim untuk parma pernah menjadi bagian dari skuat yang meraih 3 gelar, yaitu UEFA CUP 1998/99, Coppa Italia 1998/99 dan Supercoppa Italiana 1999.

Cedera Pengaruhi Prestasi Tim

maria

Prestasi klub selalu dipengaruhi oleh performa pemain – pemain pilar, absennya pemain pilar mampu membuat manajer tim bingung, karena harus mencari lagi komposisi pemain dan strategi yang akan dipakai, apalagi partai yang dilakoni adalah partai penting seperti perebutan tiket Liga Champions.

Contoh lain adalah Arsenal , Catatan cedera juga memengaruhi performa Arsenal. Tim asuhan Arsene Wenger meraup rata-rata 2,43 poin per laga pada paruh kedua kompetisi. Bandingkan dengan paruh pertama, saat mereka cuma meraih rata-rata 1,74 poin per partai lantaran diganggu badai cedera.

Manchester United menjadi tim paling menderita karena cedera sepanjang Premier League 2014-15. Sedangkan gelandang dan bek menjadi posisi yang paling sering diserang cedera. Karena badai cedera yang kerap menghampiri, prestasi tim yang berjuluk The Red Devils sangat merosot tajam.

Temuan itu terlihat dari survei yang dilakukan Ben Dinnery, pendiri Premier Injuries Ltd. Sosok yang kerap disebut sebagai pakar cedera tersebut, melakukan riset mendalam terkait jumlah cedera dialami setiap tim, periode paling riskan, posisi paling rentan, dan bagian tubuh paling rawan.

Hasilnya, MU mengalami 55 kali cedera sepanjang musim 2014-15. Inilah jumlah tertinggi dibandingkan 19 kontestan Premier League lainnya. Di bawah Manchester United, ada Everton (45) dan Arsenal (42). Sedangkan sang juara Chelsea hanya menempati peringkat kedelapan dari bawah dengan catatan 30 kali cedera.

Riset Dinnery juga menunjukkan, lima klub besar yaitu Manchester City, Arsenal, MU dan Tottenham Hotspur mengalami lebih banyak cedera pada paruh pertama kompetisi. Ini bisa dimaklumi mengingat tak ada jeda musim dingin. Terbukti, sebagian besar cedera terjadi pada Desember.

Belum lagi banyak pemain Premier League yang ambil bagian pada Piala Dunia 2014. Gara-gara Piala Dunia pula, pemain Jerman dan Argentina menderita. Pemain dari negara finalis Piala Dunia ini harus absen antara 38 dan 40 hari ketika mengalami cedera.

Sementara itu, gelandang dan striker menjadi posisi yang paling sering mengalami cedera. Dari seluruh cedera yang terjadi pada Premier League 2014-15, 40 persen di antaranya dialami gelandang. Sedangkan cedera untuk pemain belakang mencapai 36 persen.
Cedera yang menimpa gelandang dan bek itu juga memakan waktu penyembuhan lama. Ambil contoh Steven Pienaar (absen 225 hari), Mathieu Debuchy (192 hari), Luke Shaw (120 hari), Samir Nasri (102 hari) dan John Obi Mikel (92 hari).

Para bek dan gelandang Premier League juga harus mewaspadai bagian paha dan lutut. Sebab, dua bagian tubuh ini kerap jadi momok sepanjang musim 2014-15. Masih berdasarkan riset Dinnery, 26 persen dari semua cedera menyerang paha, lalu lutut sebesar 16 persen.

Bila ditilik lebih lanjut, ada korelasi antara posisi pemain dan bagian tubuh yang cedera. Pienaar dan John Obi Mikel absen panjang karena cedera lutut. Sedangkan Shaw berkutat di ruang perawatan lantaran masalah paha.